Model Pembelajaran Berdiferensiasi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Dalam satu kelas X, ada siswa yang sudah lancar menulis opini panjang, ada pula yang masih kesulitan menyusun satu paragraf utuh. Pembelajaran berdiferensiasi berangkat dari kenyataan itu: guru menyesuaikan cara mengajar dengan kebutuhan murid, tanpa menurunkan tujuan yang ingin dicapai. Bahasa Indonesia termasuk mata pelajaran yang paling leluasa untuk menerapkannya, karena keterampilan menyimak, membaca, berbicara, dan menulis bisa dilatih lewat banyak jalan.
Prinsip Dasar Pembelajaran Berdiferensiasi
Pembelajaran berdiferensiasi tidak berarti membuat 36 rencana pembelajaran untuk 36 siswa. Tujuan Pembelajaran (TP) tetap sama untuk semua murid. Yang dibedakan adalah jalan menuju tujuan tersebut.
Guru biasanya memperhatikan tiga hal dari murid:
- Kesiapan belajar, yaitu kemampuan awal murid terkait materi yang akan dipelajari.
- Minat, yaitu topik atau kegiatan yang membuat murid bersemangat.
- Profil belajar, misalnya apakah murid lebih nyaman belajar sendiri atau berkelompok, lewat bacaan atau lewat diskusi.
Berdasarkan pemetaan itu, guru bisa menyesuaikan empat unsur pembelajaran: konten (apa yang dipelajari dan dari sumber apa), proses (bagaimana murid mempelajarinya), produk (bagaimana murid menunjukkan hasil belajarnya), dan lingkungan belajar (suasana serta pengaturan kelas).
Memetakan Kebutuhan Murid
Pemetaan dilakukan lewat asesmen diagnostik di awal semester atau sebelum masuk materi baru. Untuk Bahasa Indonesia, Bapak/Ibu bisa memakai:
- tes membaca pemahaman singkat,
- contoh tulisan bebas satu atau dua paragraf,
- angket minat yang menanyakan topik favorit murid, misalnya sepak bola, musik, kuliner, otomotif, atau lingkungan,
- catatan dari wali kelas dan guru BK.
Hasilnya cukup dicatat dalam tabel sederhana berisi nama murid, tingkat kesiapan, minat, dan catatan khusus. Tabel ini bersifat sementara dan perlu diperbarui seiring perkembangan murid.
Contoh Penerapan: Menulis Teks Eksposisi di Kelas X
Misalkan TP-nya berbunyi: Peserta didik mampu menulis teks eksposisi dengan struktur tesis, rangkaian argumen, dan penegasan ulang, didukung fakta yang relevan.
Diferensiasi konten
Sediakan beberapa teks contoh dengan tingkat kesulitan berbeda. Topiknya disesuaikan dengan minat dan kehidupan murid, seperti sampah plastik di kantin sekolah, aturan penggunaan ponsel di kelas, atau kemacetan di depan sekolah saat jam pulang. Sumbernya pun bisa beragam, mulai dari artikel cetak, video berita, sampai infografis.
Diferensiasi proses
| Kelompok | Kondisi murid | Kegiatan |
|---|---|---|
| Perlu bimbingan | Belum bisa membedakan tesis dan argumen | Belajar bersama guru, membedah teks contoh dengan stabilo berwarna, lalu melengkapi kerangka yang sebagian sudah terisi |
| Berkembang | Memahami struktur, tetapi argumennya masih lemah | Menyusun kerangka sendiri dengan bantuan daftar pertanyaan panduan, lalu berdiskusi berpasangan |
| Mahir | Sudah mampu menulis eksposisi sederhana | Mencari data dari sumber tepercaya, menulis tentang isu di lingkungan sekitar, lalu memberi umpan balik pada tulisan teman |
Kelompok ini sebaiknya fleksibel. Murid yang tadinya perlu bimbingan bisa pindah ke kelompok berkembang setelah hasil exit ticket menunjukkan kemajuan.
Diferensiasi produk
Karena TP-nya tentang menulis, produk utama tetap berupa teks eksposisi tertulis. Variasi bisa diberikan pada bentuk publikasinya: ditempel di mading, diunggah ke blog kelas, dibacakan sebagai naskah siaran radio sekolah, atau diringkas menjadi poster. Pastikan setiap pilihan tetap menunjukkan struktur dan kaidah kebahasaan teks eksposisi sehingga bisa dinilai dengan rubrik yang sama.
Lingkungan belajar
Atur kelas menjadi beberapa area, yaitu meja bimbingan guru, area diskusi, dan sudut yang lebih tenang bagi murid yang butuh konsentrasi saat menulis. Sepakati aturan bersama, misalnya batas volume suara saat diskusi, agar setiap kelompok bisa bekerja dengan nyaman.
Strategi Lain yang Mudah Dicoba
- Stasiun belajar. Murid berpindah dari satu pos ke pos lain, misalnya pos membaca, pos menyimak rekaman, dan pos menulis.
- Papan pilihan. Murid memilih dua atau tiga tugas dari sembilan pilihan yang semuanya mengarah ke TP yang sama.
- Tugas berjenjang. Satu tugas dibuat dalam beberapa tingkat kesulitan dengan tujuan yang sama.
- Perancah (scaffolding). Kartu kata penghubung, contoh kalimat pembuka, atau kerangka tulisan membantu murid yang belum percaya diri.
Menghadapi Tantangan di Kelas Nyata
Kelas besar, waktu terbatas, dan gawai yang tidak merata adalah tantangan yang sering dihadapi guru. Beberapa cara menyiasatinya:
- Mulai dari satu unsur saja, misalnya diferensiasi proses, sebelum mencoba keempatnya.
- Gunakan bahan cetak dan kartu kerja yang bisa dipakai ulang.
- Libatkan murid mahir sebagai tutor sebaya, tetapi jangan bebani mereka di setiap pertemuan.
- Gunakan asesmen formatif singkat untuk memutuskan siapa yang perlu bimbingan tambahan pada pertemuan berikutnya.
- Hindari label permanen. Beri kelompok nama netral, misalnya nama warna atau nama tokoh sastra.
Pembelajaran berdiferensiasi tidak harus sempurna sejak awal. Pilih satu materi Bahasa Indonesia semester ini, petakan kebutuhan murid dengan asesmen sederhana, lalu coba bedakan satu unsur pembelajaran. Dari pengalaman itu Bapak/Ibu akan tahu bagian mana yang perlu dikembangkan berikutnya.
Bacaan Lanjutan
- KBBI Daring: kamus resmi untuk mengecek makna dan ejaan kata.
- Badan Bahasa: sumber resmi tentang kaidah dan pembinaan bahasa Indonesia.