4 Kesalahan Fatal Cara Berpikir Kita tentang Pendidikan di Indonesia (Menurut Sains)
Banyak keyakinan tentang sekolah kita warisi begitu saja, dari pengalaman sendiri sebagai murid, dari obrolan di grup WhatsApp orang tua, atau dari kebiasaan sekolah yang sudah berjalan bertahun-tahun. Sebagian terdengar sangat masuk akal. Masalahnya, beberapa keyakinan itu tidak sejalan dengan apa yang selama ini dipahami ilmu pengetahuan tentang cara manusia belajar, dan akibatnya bisa merugikan anak tanpa kita sadari.
1. Menganggap Nilai Tinggi Berarti Sudah Belajar
Nilai adalah potret pada satu waktu, dengan satu jenis soal, dalam satu kondisi. Seorang siswa bisa mendapat 90 di ulangan Biologi setelah belajar sistem kebut semalam, lalu lupa hampir semuanya dua minggu kemudian. Di atas kertas ia berhasil. Dalam kenyataannya, pengetahuan itu tidak bertahan.
Ilmu tentang belajar umumnya membedakan kinerja sesaat dengan belajar yang sesungguhnya. Belajar yang tahan lama terlihat dari dua hal: siswa masih ingat setelah jeda waktu, dan ia bisa memakai pengetahuannya dalam situasi baru. Soal hafalan jarang menguji keduanya.
Beberapa kebiasaan yang lebih membantu:
- Latihan mengingat kembali. Setelah membaca, tutup buku dan tuliskan apa yang diingat. Cara ini terasa lebih berat daripada membaca ulang, tetapi justru itulah yang membuat ingatan menguat.
- Belajar berjarak. Tiga sesi pendek di hari yang berbeda umumnya lebih efektif daripada satu sesi panjang semalam sebelum ujian.
- Ganti pertanyaan di rumah. Orang tua bisa bertanya, "Coba ceritakan apa yang kamu pelajari hari ini," alih-alih langsung menanyakan nilai.
2. Percaya PR Banyak Pasti Hasilnya Lebih Baik
PR punya tempat dalam pembelajaran, terutama untuk melatih keterampilan yang sudah dipahami di kelas. Persoalannya muncul ketika jumlah dijadikan ukuran kesungguhan. Anak SD yang mengerjakan PR dari tiga mapel sampai larut malam belum tentu belajar lebih banyak. Ia bisa saja hanya lelah.
Ilmu tentang otak dan belajar secara umum menunjukkan bahwa tidur yang cukup berperan penting dalam memantapkan ingatan. Waktu bermain, berinteraksi dengan keluarga, dan beristirahat juga bagian dari tumbuh kembang anak. PR yang menggerus semua itu bisa menjadi kontraproduktif.
Kualitas PR juga lebih menentukan daripada jumlahnya. PR yang tidak pernah diperiksa mengajarkan bahwa tugas hanyalah formalitas. PR yang terlalu sulit sering berakhir dikerjakan orang tua atau kakak. Beberapa langkah yang bisa diambil sekolah:
- tetapkan tujuan yang jelas untuk setiap PR, misalnya melatih satu jenis soal;
- buat kesepakatan antarguru agar PR tidak menumpuk di hari yang sama;
- variasikan bentuknya, seperti membaca, mengamati tanaman di halaman, atau mewawancarai anggota keluarga;
- berikan umpan balik, walaupun singkat.
3. Mengelompokkan Anak Berdasarkan "Gaya Belajar"
Banyak guru pernah mendapat pelatihan tentang gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik. Idenya, setiap anak punya satu gaya, dan ia akan belajar lebih baik jika cara mengajar disesuaikan dengan gaya itu. Gagasan ini populer dan terdengar ramah anak.
Anak memang punya preferensi. Ada yang senang melihat gambar, ada yang senang bercerita. Namun, penelitian tentang gaya belajar umumnya tidak menemukan bukti bahwa menyesuaikan pengajaran dengan "gaya" seseorang membuat hasil belajarnya lebih baik. Yang lebih menentukan adalah kecocokan cara mengajar dengan isi materi. Peta paling tepat untuk belajar letak geografis, mendengar paling tepat untuk melatih pelafalan bahasa asing, dan praktik langsung paling tepat untuk keterampilan gerak dalam PJOK.
Ada juga temuan yang cukup konsisten bahwa menggabungkan kata dan gambar membantu kebanyakan siswa memahami materi. Jadi, alih-alih memisahkan anak "visual" dan anak "auditori", lebih baik semua anak mendapat penjelasan lisan yang disertai gambar, skema, atau contoh nyata.
Label gaya belajar juga punya sisi berbahaya. Anak yang yakin dirinya "kinestetik" bisa merasa tidak mampu belajar dari bacaan, padahal kemampuan membaca justru perlu terus dilatih.
4. Melihat Kegagalan Hanya sebagai Hal Buruk
Di banyak kelas, kesalahan dihadapi dengan coretan merah, teguran, atau rasa malu saat harus ikut remedial. Pesan yang ditangkap siswa jelas: salah itu memalukan, jadi lebih aman diam daripada mencoba.
Pemahaman ilmiah tentang belajar justru menunjukkan bahwa kesulitan yang pas, tidak terlalu mudah dan tidak mustahil, membuat otak bekerja lebih keras dan hasil belajarnya lebih awet. Kesalahan memberi informasi berharga tentang bagian mana yang belum dipahami. Asalkan diikuti umpan balik, kesalahan bisa menjadi titik balik pemahaman. Sebaliknya, rasa cemas yang berlebihan cenderung mengganggu kemampuan berpikir siswa saat mengerjakan tugas.
Beberapa cara mengubah budaya kelas:
- Contohkan. Guru bisa sesekali menunjukkan kesalahannya sendiri di papan tulis dan memperbaikinya di depan siswa.
- Bedah kesalahan bersama. Tampilkan satu jawaban keliru tanpa nama, lalu ajak kelas mencari di mana letak salahnya dan mengapa.
- Puji usaha dan strategi. Kalimat "Caramu memeriksa ulang jawaban tadi bagus" lebih bermanfaat daripada "Kamu memang pintar."
- Ubah makna remedial. Sampaikan remedial sebagai kesempatan kedua, bukan hukuman.
Keempat kekeliruan ini bertahan karena terasa wajar dan sudah lama kita jalani bersama. Mengubahnya tidak perlu menunggu kebijakan baru. Bapak/Ibu guru bisa mulai dari kelas sendiri, misalnya dengan satu latihan mengingat kembali setiap pekan atau satu sesi bedah kesalahan setiap bab, sedangkan orang tua bisa mulai dari pertanyaan yang diajukan kepada anak sepulang sekolah. Perubahan kecil yang konsisten seperti itu sering kali lebih berdampak daripada program besar yang hanya berjalan sebentar.
Bacaan Lanjutan
- OECD PISA: survei internasional tentang kemampuan membaca, matematika, dan sains pelajar.