Sudut Edu

Mengenal Lebih Jauh P5 dalam Kurikulum Merdeka dan Contoh Penerapannya di Sekolah

1 Oktober 2023 ยท Edu News

Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, yang lebih akrab disebut P5, adalah bagian Kurikulum Merdeka yang paling sering memancing pertanyaan di ruang guru. Ada yang menganggapnya sekadar acara pentas, ada juga yang sulit membedakannya dengan tugas kelompok biasa. Tulisan ini mengurai apa itu P5, enam dimensi yang ingin dikuatkan, alur pelaksanaannya, dan dua contoh projek yang bisa Bapak/Ibu guru sesuaikan dengan kondisi sekolah.

Apa Itu P5 dan Bedanya dengan Pelajaran Biasa

P5 adalah kegiatan kokurikuler berbasis projek. Dalam rentang waktu tertentu, siswa mempelajari satu tema, mengamati masalah nyata di sekitarnya, lalu berbuat sesuatu. Waktunya diambil dari alokasi jam tersendiri yang terpisah dari jam intrakurikuler, sehingga projek tidak harus menempel pada satu mata pelajaran.

Perbedaan paling terasa ada pada tujuannya. Pelajaran intrakurikuler mengejar capaian pembelajaran tiap mapel, sedangkan P5 mengejar perkembangan karakter dan kompetensi yang dirumuskan dalam Profil Pelajar Pancasila. Hasilnya pun tidak dilaporkan sebagai angka. Guru menuliskan deskripsi perkembangan siswa dalam rapor projek.

Tema yang lazim dipakai antara lain Gaya Hidup Berkelanjutan, Kearifan Lokal, Bhinneka Tunggal Ika, Bangunlah Jiwa dan Raganya, Suara Demokrasi, Berekayasa dan Berteknologi untuk Membangun NKRI, serta Kewirausahaan. SMK mendapat tema tambahan, Kebekerjaan. Sekolah memilih tema sesuai kebutuhan dan kesiapannya, dan tidak wajib memakai semuanya dalam satu tahun.

Enam Dimensi Profil Pelajar Pancasila

Profil Pelajar Pancasila menggambarkan sosok pelajar yang ingin dibentuk oleh pendidikan kita. Ada enam dimensi, dan masing-masing dirinci lagi menjadi elemen serta sub-elemen.

Dimensi Gambaran singkat di sekolah
Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia Jujur, santun, menghormati sesama, peduli pada alam, dan taat sebagai warga negara
Berkebinekaan global Menghargai budaya sendiri dan budaya lain, mampu berkomunikasi dengan orang yang berbeda latar belakang
Bergotong royong Mau bekerja sama, peduli, dan berbagi peran dalam kelompok
Mandiri Mengenali kekuatan dan kelemahan diri, mengatur waktu, bertanggung jawab atas tugasnya
Bernalar kritis Mengolah informasi, memeriksa alasan di balik sebuah klaim, dan mengambil keputusan yang masuk akal
Kreatif Menghasilkan gagasan dan karya orisinal, luwes mencari alternatif solusi

Satu projek tidak perlu menyasar keenam dimensi sekaligus. Dua atau tiga dimensi sudah cukup, asalkan perkembangannya benar-benar bisa diamati guru. Lebih baik fokus pada beberapa sub-elemen yang jelas terlihat daripada mencantumkan semuanya di modul tetapi tidak pernah dinilai.

Alur Pelaksanaan P5 di Sekolah

Persiapan

Sekolah biasanya membentuk tim fasilitator projek. Tim ini memetakan kesiapan sekolah, memilih tema, menentukan dimensi yang disasar, dan mengatur jadwal. Ada sekolah yang memilih sistem blok beberapa hari penuh, ada yang menyebarnya beberapa jam setiap minggu. Setelah itu tim menyusun modul projek yang memuat tujuan, sub-elemen yang dinilai, langkah kegiatan, dan rubrik.

Pelaksanaan

Alur yang umum dipakai terdiri atas empat tahap:

  1. Pengenalan. Siswa dikenalkan pada tema lewat kunjungan, video, cerita, atau narasumber. Tujuannya menumbuhkan rasa ingin tahu.
  2. Kontekstualisasi. Siswa menyelidiki masalah nyata di lingkungannya melalui wawancara, observasi, dan pencatatan data sederhana.
  3. Aksi. Siswa merancang dan menjalankan solusi atau karya, misalnya kampanye, produk, pertunjukan, atau perubahan kebiasaan di sekolah.
  4. Refleksi dan tindak lanjut. Siswa menilai apa yang berhasil, apa yang belum, dan apa yang ingin dilanjutkan.

Banyak sekolah menutup projek dengan gelar karya atau panen karya. Acara ini bagus untuk merayakan proses. Namun, jangan sampai latihan pentas menghabiskan waktu yang seharusnya dipakai siswa untuk menyelidiki dan berbuat.

Asesmen

Penilaian P5 memakai rubrik perkembangan dengan empat kategori: Belum Berkembang, Mulai Berkembang, Berkembang Sesuai Harapan, dan Sangat Berkembang. Buktinya bisa berupa catatan observasi guru, jurnal refleksi siswa, foto proses, dan produk akhir.

Contoh Projek 1: Kantin Minim Sampah (SMP, Gaya Hidup Berkelanjutan)

Di banyak SMP, tempat sampah kantin penuh bungkus plastik dan gelas sekali pakai setiap jam istirahat. Masalah ini dekat dengan keseharian siswa dan mudah diamati.

  • Dimensi yang disasar: bernalar kritis, bergotong royong, kreatif.
  • Pengenalan: siswa melihat foto sungai atau selokan di sekitar sekolah yang tersumbat sampah, lalu berdiskusi tentang asal sampah itu.
  • Kontekstualisasi: selama satu minggu, tiap kelompok menghitung dan memilah sampah kantin, lalu mewawancarai pedagang tentang alasan mereka memakai kemasan plastik.
  • Aksi: kelompok mengusulkan solusi, seperti gerakan membawa botol minum, potongan harga kecil bagi pembeli yang membawa wadah sendiri, atau pojok pilah sampah. Usulan dipresentasikan kepada kepala sekolah dan pengelola kantin.
  • Refleksi: siswa membandingkan jumlah sampah sebelum dan sesudah aksi, lalu menulis apa yang perlu diperbaiki.

Bagian yang sering terlupa adalah melibatkan pedagang kantin sejak awal. Tanpa dukungan mereka, solusi siswa mudah berhenti di poster.

Contoh Projek 2: Jelajah Permainan Tradisional Kampungku (SD, Kearifan Lokal)

Projek ini cocok untuk kelas 4 atau 5 SD. Siswa menggali permainan tradisional yang dulu dimainkan orang tua dan kakek-nenek mereka, seperti gobak sodor, engklek, congklak, atau bentengan. Namanya bisa berbeda di tiap daerah, dan perbedaan itu justru menarik untuk dibahas.

  • Dimensi yang disasar: berkebinekaan global, mandiri, bergotong royong.
  • Pengenalan: guru mengajak siswa memainkan satu permainan tradisional di halaman, lalu bertanya siapa yang pernah memainkannya di rumah.
  • Kontekstualisasi: siswa mewawancarai anggota keluarga atau tetangga tentang permainan masa kecil mereka, kemudian mencatat aturan, alat, dan nilai yang terkandung di dalamnya.
  • Aksi: setiap kelompok membuat buku panduan bergambar sederhana dan mengajarkan permainan itu kepada adik kelas pada pekan olahraga sekolah.
  • Refleksi: siswa menceritakan pengalaman mewawancarai orang dewasa dan rasanya menjadi "guru" bagi adik kelas.

Projek seperti ini murah, melibatkan keluarga, dan memberi siswa pengalaman menjadi sumber pengetahuan bagi orang lain.

Catatan Penting soal Perubahan Kebijakan

Pemerintah terus meninjau dan merevisi kebijakan kegiatan kokurikuler, termasuk cara P5 dirancang, dijalankan, dan dilaporkan. Beberapa istilah, alokasi waktu, dan format laporan bisa berbeda dari yang dijelaskan di sini. Sebelum menyusun program tahun ajaran baru, cek panduan terbaru di laman resmi Kemendikdasmen atau tanyakan ke dinas pendidikan setempat.

Apa pun bentuk aturannya nanti, semangat P5 layak dipertahankan: siswa belajar dari masalah nyata dan berbuat sesuatu untuk lingkungannya. Mulailah dari satu masalah kecil yang dilihat siswa setiap hari, tetapkan dua atau tiga dimensi yang sanggup Bapak/Ibu amati, dan beri waktu yang cukup untuk tahap penyelidikan. Projek sederhana yang dijalankan dengan sungguh-sungguh jauh lebih berharga daripada projek megah yang hanya ramai di hari pameran.

Bacaan Lanjutan