Sudut Edu

Cara Mudah Meningkatkan Kemampuan Menulis Anak: Tips Efektif yang Bisa Dilakukan

1 Maret 2023 ยท Edu News

Banyak anak lancar bercerita secara lisan, tetapi langsung terdiam ketika diminta menuliskannya di buku. Kemampuan menulis memang tumbuh perlahan dan butuh latihan yang menyenangkan, bukan sekadar tugas mengarang di akhir pekan. Tips berikut bisa diterapkan oleh orang tua di rumah maupun Bapak/Ibu guru di kelas.

Bangun Kebiasaan Membaca Lebih Dulu

Anak yang sering membaca atau dibacakan buku punya lebih banyak bekal untuk menulis: kosakata, contoh susunan kalimat, dan ide cerita. Luangkan waktu singkat setiap hari untuk membaca bersama, misalnya sebelum tidur.

Pilih bacaan sesuai minat anak. Anak yang suka hewan mungkin senang dengan buku tentang komodo atau orang utan, sementara anak lain lebih tertarik pada komik pengetahuan atau cerita rakyat seperti Timun Mas dan Malin Kundang. Setelah membaca, ajak anak mengobrol tentang tokoh yang paling ia sukai atau bagaimana jadinya jika akhir cerita diubah. Obrolan ringan ini melatih anak menyusun gagasan sebelum menuliskannya.

Jadikan Menulis Bagian dari Kegiatan Sehari-hari

Anak lebih bersemangat menulis jika tulisannya punya tujuan nyata. Ada banyak kesempatan kecil di rumah dan sekolah yang bisa dimanfaatkan:

  • Menulis daftar belanja sebelum pergi ke pasar atau warung.
  • Membuat kartu ucapan Lebaran, Natal, atau ulang tahun untuk anggota keluarga.
  • Menulis surat atau pesan untuk kakek dan nenek di kampung.
  • Mencatat resep sederhana, misalnya cara membuat pisang goreng bersama ibu.
  • Menulis jurnal harian tiga sampai lima kalimat tentang kejadian hari itu.

Kegiatan seperti ini terasa ringan karena anak tidak merasa sedang mengerjakan tugas. Untuk jurnal harian, sediakan buku khusus yang boleh dihias sendiri oleh anak agar ia merasa memilikinya.

Permainan kata juga bisa membantu. Coba permainan sambung cerita: Anda menulis satu kalimat pembuka, anak melanjutkan dengan satu kalimat, lalu begitu seterusnya secara bergantian. Permainan lain adalah membuat cerita singkat dari tiga kata acak, misalnya "payung", "kucing", dan "pasar". Kegiatan semacam ini melatih imajinasi dan kelancaran menulis tanpa tekanan nilai.

Berikan Topik yang Dekat dengan Dunia Anak

Topik yang terlalu umum seperti "Liburanku" sering membuat anak bingung harus mulai dari mana. Persempit topiknya dan buat lebih konkret. Bandingkan "Ceritakan liburanmu" dengan "Ceritakan saat kamu pertama kali naik kereta ke rumah nenek. Apa saja yang kamu lihat dari jendela?" Permintaan kedua langsung memancing ingatan dan detail.

Kegiatan menulis juga perlu disesuaikan dengan jenjang anak:

Jenjang Contoh kegiatan menulis
TK dan kelas 1โ€“2 SD Menebalkan huruf, menulis nama benda di sekitar rumah, melengkapi kalimat bergambar
Kelas 3โ€“4 SD Menulis cerita pendek dari gambar berseri, membuat surat sederhana
Kelas 5โ€“6 SD Menulis laporan pengamatan, misalnya pertumbuhan kacang hijau, atau ulasan buku
SMP Menulis teks opini tentang masalah di sekolah, cerpen, atau artikel untuk majalah dinding

Untuk anak usia dini, kekuatan otot jari juga perlu diperhatikan. Kegiatan seperti meremas plastisin, menggunting, dan mewarnai membantu anak lebih nyaman memegang pensil.

Pisahkan Tahap Menulis dan Tahap Merapikan

Kesalahan yang sering terjadi adalah orang dewasa langsung mengoreksi ejaan ketika anak baru menuangkan ide. Akibatnya anak takut salah dan memilih menulis sesedikit mungkin.

Coba bagi prosesnya menjadi beberapa langkah:

  1. Curah gagasan. Anak menyebutkan atau mencatat ide apa saja tanpa takut salah.
  2. Menulis draf. Anak menulis dengan bebas dan fokus pada isi cerita.
  3. Membaca ulang. Ajak anak membaca tulisannya dengan suara keras. Bagian yang terdengar janggal biasanya akan ia sadari sendiri.
  4. Merapikan. Baru pada tahap ini perhatikan huruf kapital, tanda baca, dan ejaan, cukup satu atau dua hal setiap kali.

Dengan cara ini, anak belajar bahwa tulisan yang baik lahir dari proses dan tidak harus sempurna sekali jadi.

Berikan Umpan Balik yang Membangun

Pujian yang spesifik jauh lebih bermakna daripada sekadar "Bagus". Katakan misalnya, "Ibu suka bagian ketika kamu menggambarkan suara hujan di atap seng, rasanya seperti ikut mendengar." Setelah itu, berikan satu saran perbaikan yang jelas, misalnya menambahkan nama tokoh atau memperjelas urutan kejadian. Bagi guru dengan jumlah siswa yang banyak, umpan balik tidak harus panjang. Cukup garis bawahi satu kalimat terbaik dan tulis satu saran singkat di bawah tulisan siswa.

Hargai hasil tulisan anak dengan memajangnya di dinding kamar atau papan kelas, atau membacakannya saat keluarga berkumpul. Di sekolah, guru bisa membuat pojok karya atau buku kumpulan tulisan kelas. Anak yang merasa tulisannya dibaca orang lain biasanya lebih termotivasi untuk menulis lagi.

Hindari membandingkan tulisan anak dengan tulisan saudara atau temannya. Bandingkan dengan tulisannya sendiri beberapa bulan sebelumnya, supaya ia bisa melihat kemajuannya secara nyata.

Mulai dari Satu Kebiasaan Kecil

Kemampuan menulis anak berkembang dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus. Mulailah minggu ini dengan satu kegiatan sederhana, misalnya jurnal tiga kalimat sebelum tidur atau kartu ucapan untuk anggota keluarga. Dampingi tanpa terburu-buru mengoreksi, rayakan setiap kemajuan, dan biarkan anak menemukan sendiri bahwa menulis adalah cara yang menyenangkan untuk bercerita.

Bacaan Lanjutan